Mendaki Merapi
5 September 2015
Sore itu saya sangat lapar. Saya ingin mencari makanan di warung yang biasanya saya kunjungi. Sesudah menyiapkan uang, saya keluar dari kamar. Saya lihat ada Mas Fadli, teman satu kos yang sekaligus alumni UGM, berdiri di depan pintu masuk ruang menuju kamar kos. Saya teringat bahwa saya ingin menanyakan gitar yang ada di depan kamarnya. Akhirnya, saya tidak jadi pergi mencari makanan dan mulai berbincang-bincang.
"Mas, gitar yang di situ punya siapa, ya?
"Oh, itu. Itu punya Mas Robi. Pakai aja."
Saya segera mengambil gitar itu dari tasnya. Sebuah gitar akustik yang masih bagus dan setelah saya coba, suaranya masih enak didengar. Tiba-tiba Mas Fadli menanyakan sesuatu.
"Harrits, kamu mau ikut naik gunung, gak? Aku habis ini mau ke Merapi."
Merapi? Terdengar asyik mendaki Merapi, salah satu gunung teraktif di Indonesia. Sudah lama juga saya tidak mendaki. Pertama kali saya mendaki adalah di Gunung Panderman, Kota Batu. Iya, hanya sekali itu dan tidak pernah lagi karena banyak kegiatan saat kelas 12 dan masuk kuliah, serta saya, sebenarnya, tidak diperbolehkan naik gunung oleh ibu saya. Dahulu saya naik gunung secara diam-diam. Tapi, karena masih muda dan ingin mencari pengalaman, saya memberanikan diri untuk naik gunung lagi.
"Ok, Mas. Kapan berangkat?"
"Nanti deh, habis magrib."
"Kalau jam setengah 8 gimana, Mas? Soalnya nanti aku mau keluar sama temanku."
"Ok, bisa. Setengah 8, ya."
"Besok kira-kira pulang jam berapa? Jangan sampai setengah 4, Mas. Saya ada urusan dengan seseorang."
"Dari sini ke Merapi kira-kira 2 jam. Nyampe di sana berhenti dulu sebentar. Ntar naiknya sekitar empat atau lima jam. Kalau sampai pulangnya, gak sampai jam segitu, kok. Jam 12 atau jam 2 sudah sampai lagi."
Dia bertanya tentang pengalaman mendaki saya. Saya tidak bisa cerita banyak karena baru sekali mendaki. Setelah itu bermunculan pesan singkat dari teman-teman. Teman yang mengajak saya ke Gelanggang Expo UGM bilang akan datang ke kos. Satu teman lagi mengajak makan bersama dengan alumni-alumni dari sekolah saya yang kuliah di UGM, tapi saya tidak bisa karena saya akan ke Merapi.
Saya santai saja. Karena saya memang bukan pendaki profesional, saya tidak tahu alat-alat apa yang harus dibawa ketika mendaki. Saya hanya tahu dari teman saya sewaktu SMA yang hobi mendaki gunung tentang alat-alat yang biasanay dia bawa. Tetapi, saya tidak punya alat-alat itu. Saya hanya menyiapkan tas, buku catatan, gunting, baju tebal yang saya gunakan, celana olahraga, air mineral, buku Inkonfeso, kaos kaki, dan uang tentunya. Saya dipinjami jaket dan sepatu oleh Mas Fadli.
Selesai magrib, saya memenuhi hasrat saya untuk makan yang telah tertunda sejak sore. Saya makan di warung kecil dekat kos. Hampir selesai makan, teman saya sejurusan yang bernama Royandi datang ke sana. Dia menunggu teman saya yang lain, Ruvel. Tak lama setelah itu Abilawa datang. Kami mengobrol sebentar di sana. Setelah Ruvel datang, Royandi pergi dengan dia. Saya dan Abilawa ke kos. Dia ada perlu tentang tugas matakuliah Logika. Saya tunggu lama, teman yang mengajak ke Gelanggang tadi tak kunjung mengabari saya. Setelah Abilawa pergi, maka saya segera bersiap untuk ke Merapi.
Pukul tujuh lebih seperempat. Saya lihat Mas Fadli malah tidur. Saya bertanya-tanya dalam hati apakah ini jadi atau tidak. Saya tunggu saja. Pukul delapan barulah Mas Fadli bangun.
"Rits, jadi ikut, gak?" teriak dari kamarnya.
"Ayo!"
Saya segera mengamasi barang-barang yang akan saya bawa. Baiklah, semua siap. Mas Fadli juga menyiapkan barang-barang yang ia butuhkan. Saya meminjam senter ke mbah, pemilik kos ini. Semua persiapan selesai. Tanpa menunggu apa-apa, kami berangkat.
Dari kos ke Merapi kami naik sepeda motor milik Mas Robi. Kami melewati perbatasan Sleman dan Magelang. Rencananya kami naik dari daerah Boyolali. Perjalanan kami tempuh sekitar 2 jam. Kami berhenti sebentar untuk mengisi sepeda motor dengan bahan bakarnya. Karena di daerah saya di Malang dulu terbiasa dingin, suhu malam itu jadi tidak terlalu dingin untuk saya. Mas Fadli merasa mulai kedinginan.
Sebelum ke arah Boyolali, kami berhenti di Alfamart untuk membeli bekal. Saya hanya beli roti, makanan ringan, dan air mineral lagi. Setelah itu kami segera menuju sebuah jalan ke arah Merapi. Jalan itu naik terus. Di tengah-tengahnya sedang ada perbaikan jalan yang menyebabkan debu dan pasir yang berceceran di jalan sehingga kami harus berhati-hati. Truk-truk pembawa pasir berurutan. Agar tidak mengantuk, kami bercerita sepanjang jalan itu. Hampir saja kami jatuh dari sepeda motor ketika melewati jalan berpasir. Sepeda motor oleng dan saya menduga pasti jatuh. Dugaan saya tidak tepat. Ternyata kami tidak jatuh, padahal itu 80% keadaan akan jatuh. Mungkin itu hanya cara Tuhan agar kami tidak mengantuk. Hehehe.
Jalan itu sangat panjang. Kami melewati daerah perbukitan yang sepi, hanya beberapa pengendara yang lewat. Sesekali ada pengendara yang lewat. Mendekati Merapi, kami juga melihat warna gelap Merbabu. Kata Mas Fadli, jika di siang hari, pemandangan di sana bagus. Saya hanya melihat lampu-lampu rumah warga dan sebuah cahaya merah di Merbabu.
Akhirnya kami sampai di basecamp Merapi. Ternyata cahaya merah di Merbabu itu adalah titik api dari kebakaran. Memang beberapa hari ini saya sering membaca berita tentang terbakarnya Merbabu. Sungguh disayangkan bila itu adalah ulah kecerobohan manusia. Mas Fadli memfoto titik api itu.
| ||
| Titik api Merbabu. |
Kami ke tempat tiket. Kami membeli tiket untuk naik ke Merapi seharga Rp. 18.500 untuk setiap orang. Kemudian kami istirahat sebentar di salah satu penitipan sepeda motor yang ada semacam tempat untuk tidur dari kayu dan tikar. Kami berkenalan dengan pendaki lain. Mas Fadli tiba-tiba mencari sesuatu. Ternyata head lamp atau lampu kepala miliknya tidak ada. Ia ingat bahwa ia mengeluarkannya ketika di tempat pembelian tiket tadi. Ia kembali ke sana untuk menanyakan. Tapi, kata Mas Fadli, di sana tidak ada dan orang-orang disana tidak ada yang tahu. Mas Fadli mencari lagi, menyusuri jalan yang dilewati dari tempat penitipan sepeda motor sampai di tempat istirahat. Tidak ditemukan. Kemungkinan besarnya hanya satu, yaitu diambil orang lain. Ya sudah, akhirnya hanya bisa mengihklaskan. Beramal yang tidak direncanakan. Oh iya, kami sampai di sana sekitar pukul 23.30 WIB.
6 September 2015
Pukul setengah 1 kami mulai mendaki. Kami bersama dua orang lain dari Teknik Sipil Undip. Kami berempat mendaki. Ternyata jalan ke Merapi itu menanjak terus, berbeda dengan saat di Panderman yang tidak terlalu naik dan banyak datarnya. Awalnya saya melangkah dengan cepat, namun semakin lama semakin pelan dan semula di depan akhirnya di belakang.
"Kalau mendaki itu harus menyesuaikan dulu. Jangan langsung cepat," kata Mas Fadli yang sudah pernah mendaki Merapi.
"Iya, Mas. Di Panderman gak senaik ini."
Beberapa kali saya berhenti sebentar, kemudian jalan lagi. Beruntung saat itu saya dengan orang-orang yang pengertian sehingga saya tidak ditinggal. Pos 1 masih jauh.
"Mas, saya sampai di pos 1 saja, ya. Nanti Mas Fadli ke puncak saja, saya tunggu."
"Wah, ya gak bisa begitu. Semangat! Pasti bisa!"
Setelah itu, tidak lama kemudian kami sampai di pos 1. Saya lihat papan yang ada di sana. Ternyata masih sangat jauh. Baiklah. Semangat.
Selama perjalanan menanjak itu saya banyak belajar. Ternyata untuk mencapai segala sesuatu diperlukan usaha yang keras. Akar pohon yang saya jadikan pegangan juga mengajari saya bahwa tidak ada yang bisa hidup sendiri. Pendakian gunung di Merapi itu memang sangat spesial. Entah kenapa, tapi saya banyak belajar di sana.
Sesekali kami berhenti untuk beristirahat sebentar. Kami makan bekal ringan yang kami bawa, juga minum. Setelah itu kembali naik. Kami sampai di pos 2. Istirahat sebentar. 10 menit kemudian naik lagi.
Dari area pasir, kami ke area berbatu. Mulailah batu-batu besar menyapa. Bahkan diamnya batu, selain tidak menyakiti orang, juga mempunyai peran membantu orang lain sebagai pijakan dan genggaman untuk naik. Betapa filosofis Tuhan menciptakan segalanya. Saya sempat berpikir bahwa saya tidak akan bisa kembali ke bawah. Saya pikir saya akan berhenti di gunung. Berhenti dalam artian kembali ke Yang Maha Kuasa.
Pukul setengah tiga pagi kami berhenti di sebuah batu besar untuk tidur. Ketika itu sangat dingin. Karena terlalu dinginnya, saya tidak bisa tidur. Itu melebihi dingin yang pernah saya rasakan. Mas Fadli juga begitu. Ia berkenalan dengan orang-orang dari Belgia dan berbicang sebentar dengan mereka.
Tidak terasa sudah pukul empat. Kami naik lagi. Karena sudah mulai terbiasa, saya akhirnya tidak mudah lelah lagi. Kami sampai di pos Pasar Bubrah, sebuah tempat yang datar, biasanya digunakan untuk bertenda. Dari situ kami sudah bisa melihat puncak. Rencana awal kami memamng Pasar Bubrah, namun sungguh sayang jika tidak dilakukan di puncak. Mas Fadli terus menyemangati saya.
Kami naik ke puncak. Mulailah daerah berbatu dan berpasir yang tidak ada tanaman satupun di sekeliling. Sesekali harus merangkak. Mas Fadli dan dua orang yang bersama kami berhenti sejenak. Saya terus mencoba mendaki sedikit demi sedikit. Terkadang ada ketakutan batu-batu besar itu tiba-tiba menggelinding. Saya terus naik. Garis terbit mulai terlihat dan mulai terang. Puncak tinggal sebentar lagi. Saya semakin bersemangat. Mas Fadli mulai menyusul. Ia mendaki sangat cepat, mungkin karena terbiasa. Saya mencari batu-batu yang bisa digunakan sebagi pijakan. Akhirnya, sampailah saya di puncak sebelum matahari terbit, sekitar pukul 05.22. Alhamdulillah.
Saya bersyukur bisa mencapai puncak. Kalau saja saya menyerah di pos 1, saya tidak akan bisa sepenuhnya merasakan pendakian ini. Mas Fadli juga sampai puncak. Saya takut untuk berdiri di puncak karena sebelah saya adalah jurang menuju ke kawah. Tapi, dengan memberanikan diri, sesekali saya berdiri. Saya melihat matahari dari puncak gunung. Itu adalah pertama kali bagi saya. Saya sempatkan untuk berfoto.
Saya menikmati di sana. memang sangat dingin, tapi juga begitu hangat. Matahari terbit dan awan-awan seperti kapas.
Setelah matahari naik seluruhnya, saya dan Mas Fadli turun. Perjalan turun lebih mudah. Sekali lagi saya mendapatkan pelajaran bahwa yang terberat dari pencapain suatu hal adalah menuju ke arahnya, sedangkan untuk meninggalkan atau tersingkir darinya adalah hal yang mudah. Oleh karena itu, setiap yang ingin mencapai hal tersebut harus berhati-hati dan bersungguh-sungguh. Jika lelah, maka istirahatlah dengan tetap menapak sedikit demi sedikit. Ini bisa jadi untuk kemanusian, juga untuk ketuhanan.
Perjalanan turun lebih cepat karena kami tidak sengaja menemukan jalur yang berbeda dari awal. Perjalanan turun selama 3 jam. Akhirnya kami sampai di basecamp. Kami berjumpa dengan pendaki yang baru naik dan juga baru turun. Saya dan Mas Fadli makan di warung dekat sana. Tak berapa lama kemudian, kami pulang karena setengah 4 saya ada acara, takut terlambat.
Sekian. Begitu banyak pelajaran. Yang bisa saya simpulkan adalah kita semua tidak bisa sendiri untuk mencapai tujuan. Entah disadari atau tidak, kita tidak pernah bekerja sendiri. Terima kasih untuk Mas Fadli yang sudah mengajak saya. Ini adalah salah satu pengalaman paling berharga.
![]() |
| Kata Mas Fadli |


Komentar
Posting Komentar